KABAR EXPRES | MAKASSAR – Sederet orang bertitel profesor ikut dalam barisan 2.300 pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Sulsel.Salah seorang di antaranya adalah M. Dia mengaku baru tersadar
dirinya tertipu setelah Kanjeng ditangkap ribuan personel personel Polda
Jatim di Padepokan Probolinggo, beberapa waktu lalu.
Uangnya Rp10 juta yang masuk ke padepokan tak kunjung kembali.
Padahal, wanita yang berpredikat guru besar ini telah dijanjikan uangnya
akan dikembalikan 10 kali lipat.Pada saat masih mengajar di sebuah sekolah tinggi, Prof M rajin
mengikuti pengajian Kanjeng di Yayasan Bontobila Jalan Batua Raya
Makassar. Namun, sejak 2012 lalu, Prof M pindah home base ke sebuah
universitas swasta. Sejak itu pula dia tidak pernah lagi ikut pengajian
Kanjeng.
Uang Rp10 juta, disetor Prof M ke Yayasan Bontobila, cabang Yayasan
Dimas Kanjeng di Sulsel. Dana itu disetor tiga kali. Awalnya, Rp2 juta,
kemudian Rp3 juta, dan terakhir Rp5 juta.
“Setelah mengetahui itu adalah penipuan, saya berharap uang saya
dapat kembali. Hal tersebut juga pastinya juga menjadi harapan teman
pengajian saya, yang berjumlah ratusan pada 2010 hingga 2011 lalu,”
ujarnya Rabu (28/9/2016).
Prof M mengaku, awalnya dia diajak temannya, Ibrahim Taju yang tidak
lain suami Marwah Daud. Awalnya, hanya menggelar pengajian untuk
menggugah nurani calon pengikutnya. Setelah berhasil meyakinkan bahwa
kegiatan yang digelar tersebut itu bagus, mereka mulai melancarkan
aksinya.
Mereka mulai meminta sumbangan kepada santrinya untuk melakukan
pembangunan Pondok Pesantren dengan iming-iming mendapatkan pahala.
Bukan hanya itu, Prof M dan santri lainnya, juga dijanjikan uang 10 kali
lipat dari dana yang disetorkan.
“Pada awalnya saya tidak ada kecurigaan terhadap permintaan dana
tersebut. Karena yang mengajak saya adalah seorang teman yang cukup
memiliki nama. Saya memang tidak berharap untuk mendapatkan uang yang
berlipat ganda, tetapi murni untuk pahala saja,” katanya.
Selain Prof M, salah satu guru besar lainnya yang ikut tergiur
jaringan Kanjeng adalah Prof S, seorang guru besar di sebuah perguruan
tinggi negeri di Makassar. Malah kampus tempat Prof S mengajar, pernah
dijadikan tempat pelantikan Tim Sembilan yang bertugas membagikan
keuntungan dari dana yang disetorkan para santri ( fajar.com)
